Welcome..

The happiest people do not always have the best stuff. They just make the best of everything that comes along the way

Selasa, 03 Mei 2011

Dakwah Dengan Cinta

Belajar dari pengalaman, sering sekali dalam dialog oleh aktivis, baik face to face atau dunia maya, ada kecenderungan untuk memposisikan lawan dialog sebagai ”musuh”. Akibat yang timbul, seringkali muncul pola fikir untuk ”menghancurkan” lawan dialog. Dengan pola fikir seperti ini, wajar saja akhirnya muncul kata-kata yang bukannya mampu menunjukkan kebenaran yang dibawa, malah justru yang dilakukan hanya”menembak mati” lawan dialog. Sebagai contoh:

”Hahaha… masih aja keracunan demokrasi! Hih najis.. buang demokrasi dari kepalamu, SEKARANG !!”

Yang dimaksudkan sih memang benar: Buang demokrasi. Tapi pilihan kalimat seperti itu jelas hanya seperti ”tembakan peluru” yang mematikan. Bukan ”benih” yang menghidupkan dan membangun. Bukankah yang ingin kita lakukan adalah dakwah menyadarkan orang, bukan sekedar menyalahkan orang?
Para aktivis sudah selayaknya tidak memposisikan dirinya berhadap-hadapan, bersaing, apalagi bermusuhan dengan lawan dialognya. Ia harus menempatkan lawan dialognya sebagai partner dialog bukan ”musuh”. Jika seperti ini, insya Allah posisi forum bukanlah ”medan perang”. Tapi berubah sebagai ”ruang rapat”, dimana masing masing pihak akan dengan tenang mengutarakan pendapatnya dan menjadi sarana efektif bagi aktivis untuk menunjukkan kebenaran seterang-terangnya.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah selalu berperasaan ”positif”. Aktivis yang sudah negative thinking duluan, biasanya akan dengan mudahnya terjebak emosi. Lawan dialog nyeleneh sedikit dari pemikiran islam, langsung deh menjustifikasi macam-macam.. misalnya lawan dialognya menyuarakan isu HAM, Nasionalisme, Pluralisme, Pancasila, Liberaslisme, Demokrasi, tidak mendukung khilafah dsb, wuih, udah deh kata-kata gak terkontrol lagi..Font huruf jadi besar semua, tanda serunya banyak n kalimat kembali hanya ”menembak mati” lawan dialog. Yang awalnya udah menempatkan ”posisi” dengan baik, langsung berubah jadi ”medan perang” lagi.

”Kamu gak ngerti juga yah? Demokrasi itu sistem KUFUR!! Masa sistem KUFUR mau diambil?? MANA BISA???”
”Woy, bisa pinteran dikit gak sih?? Demokrasi itu bertentangan dengan Islam!!”
Anda kembali harus benar-benar memahami, bahwa dialog yang kita lakukan bukanlah ”menghancurkan lawan dialog”. Namun berupaya membangun kesadarannya. Anda tulis ”DEMOKRASI ITU SISTEM KUFUR, TAU GAK???!!” dengan font besar dan banyak tanda serunya juga gak menjamin lawan dialog bakal mengerti.

Ya, kita harus memahami, bahwa seringkali orang itu salah karena tidak tahu. Ya, karena tidak tahu. Hanya itu kok. Umumnya, jika lawan dialog kita itu muslim, ia pasti tidak akan menolak islam. Pendapatnya yang cenderung nyeleneh dan membangkitkan emosi itu hanya karena ketidak tahuannya. Artinya, yang anda butuhkan hanya bagaimana agar pemahaman Islam yang anda miliki ”tertransfer” padanya, dan merubah ”pola fikirnya”. Bukannya malah menghardiknya atau menjelek-jelekkannya. Bukankah seperti itu? Bukankah ini lebih sesuai daripada ”menembak mati” lawan dialog?

Ketika berdialog dengan seseorang, kita harus selalu positive thinking, bukan emosi melulu yang harus dikedepankan. Juga kita harus menyadari, bahwa yang kita dakwahi, tentu saja karena ia belum mengerti. Maka, ketika apa yang kita sampaikan belum mampu ia cerna, yang kita fikirkan bukannya, ”heh, kenapa sih dia gak ngerti ngerti juga?” tapi seharusnya, ”bagaimana ya caranya agar dia mengerti…”. kalau kita berfikir seperti ini, insya Allah ketika menghadapi lawan dialog, anda tidak akan terburu terbawa emosi, tapi justru berfikir semakin kreatif agar lawan dialog anda benar-benar mengerti !

Seni dalam Berkomunikasi

Setelah memahami konsep ”dakwah dengan cinta”, insya Allah hati dan pola fikir anda sudah punya bekal. Namun sekedar itu saja tentu belum cukup. Dalam dakwah, yang kita lakukan bukan hanya sekedar ”transfer ide”, dalam artian, sudah cukup, yang penting sudah tersampaikan. Tidak hanya itu bro.. Ibarat seperti tukang pos yang hanya ”sekedar mengantarkan”. Tapi yang harus dilakukan adalah, seperti sebuah produk pasar yang punya strategi dalam pemasarannya hingga orang orang tertarik membelinya.

Kita bisa belajar kepada manusia yang punya keterampilan tinggi dalam berkomunikasi sebagaimana Rasulullah. Orang yang datang kepadanya dengan keputusasaan akan pulang dengan motivasi; orang yang datang kepadanya dengan kegamangan akan pulang dengan kemantapan; orang yang datang kepadanya dengan keraguan akan pulang dengan kepercayaan; orang yang datang kepadanya dengan kesembronoan akan pulang dengan keseriusan; orang yang datang kepadanya dengan pelecehan akan pulang dengan penghormatan; orang yang datang kepadanya dengan kemarahan akan pulang dengan penyesalan.

Agar mampu membangun komunikasi yang baik, seseorang harus mempunyai rasa empati. Empati adalah kepekaan untuk merasakan sesuatu yang dirasakan orang lain. Seorang komunikator yang baik, akan mampu mengkombinasikan fikiran dan emosinya dengan baik. Instingnya akan tajam. Ibarat bermain badminton, ia tahu kapan seharusnya melakukan smash, kapan dropshot, lob atau sejenisnya. Seperti itulah dalam komunikasi dakwah, seorang aktivis harus cermat melihat situasi, pemikiran dan perasaan lawan dialog atau suasana dialog. Ia harus peka dan mampu menempatkan kata kata atau kalimatnya dengan baik. Bukan asal nyerocos yang penting ”tersampaikan”.

Oleh karenanya, dalam berdialog, kita harus mencoba berangkat dari pemikiran dan perasaan orang lain agar kita bisa menempatkan kalimat dan sikap yang tepat saat berdialog. Seperti contohnya yang saya kutipkan dari buku Husain MATLa berikut:

Ini adalah petikan percakapan dari hati ke hati antara sepasang suami istri yang masih muda. Sang suami membuka percakapan terlebih dahulu.

”Rin.”
”Iya, … Mas.”
”Aku habis membaca kisah Napoleon Bonaparte, Kaisar Perancis.”
”Bagaimana menurut Mas?”
”Sepuluh tahun masa awal pemerintahan Napoleon sangat berbeda dengan lima tahun masa akhir pemerintahannya. Pada sepuluh tahun awal pemerintahannya, Napoleon berhasil menjadikan Prancis sebagai negara terkuat di Eropa. Dua pertiga Eropa tunduk kepada Prancis. Pengetahuan dan kebudayaan Prancis juga maju pesat. Paris menjadi kota terbesar dan terindah di Eropa. Namun, pada lima tahun akhir, Prancis hancur. Dari 600.000 tentara Prancis yang menyerang Rusia, tentara yang pulang tinggal 15.000. Napoleon kalah dan dibuang ke Pulau St. Helena, di tengah Laut Atlantik sana. Pada masa awalnya jaya, tetapi akhirnya hancur. Tahukah kamu apa sebabnya?”
”Nggak.”
”Sepuluh tahun awal pemerintahannya, Napoleon beristri Josephine, sementara lima tahun menjelang akhir pemerintahannya, dia beristri Marie Loussie. Menurut sejarah, Josephine membantu Napoleon menjadi orang yang sangat percaya diri, sementara Marie Loussie justru menghancurkan semangat Napoleon. Betapa vitalnya peran seorang istri. Yang satunya membuat negara jadi jaya, yang satunya lagi membuat negara hancur dan ratusan ribu prajurit tewas. Peristiwa seperti ini patut menjadi pelajaran buat wanita aktif sepertimu.”
”Maksud Mas?”
”Aku mendengar kabar tentang perempuan perempuan muda yang aktif di luar rumah. Mereka sangat energik dan mampu menggerakkan kaum ibu, tetapi terhadap suami kadang malah kurang perhatian, tidak romantis. Ini bisa membuat sang suami terganggu. Apakah seorang perempuan bisa dibilang hebat jika cuma aktif di luar rumah? Jangan! jangan dia bagaikan sosok Marie Loussie bagi suaminya.”
”Kalau aku bagaimana Mas?”
”… hmm … hmm …”
”Eeeh senyum senyum.”
”Rin, kamu bagaikan sesuatu yang bergerak terus. Padahal, aku kadang ingin dekat dengan sesuatu yang diam dan duduk manis di dekatku.”
”Kok Mas jadi penuh perasaan?”
”Soalnya kita jarang punya saat saat santai dan indah seperti sekarang. Tampaknya kamu terlalu sibuk sehingga konsentrasi untuk suami kurang. Aku bukan tidak suka kamu aktif di luar, tetapi apa kamu ingin memburu pahala dengan meninggalkan pahala yang lain? Aku ingin kamu dapat dua pahala.”
”Iya, iya. Kubikinkan kopi susu mau, Mas? Aku juga mau kok.”
”Nggak usah bikin dua, satu cangkir besar saja.”
”Baik. Aku ingin kayak Josephine!”
”Jangan.”
”Lho kok?”
”Kayak Fathimah Az-Zahra’ saja!”

Dalam dialog di atas, sang suami sebenarnya menginginkan istrinya tidak melupakan tugas dasarnya sebagai istri meskipun dia aktif dengan berbagai aktivitas di luar rumah. Namun sang suami tidak asal melarang begitu saja. Dia menyampaikan pesan lewat kisah dua istri Napoleon. Sang suami mencoba berbicara dari hati ke hati secara santai. Dia mencoba menerapkan komunikasi yang “bertitik tolak dari perasaan orang lain” secara efektif.

Dalam dialog juga seperti itu, misal tentang bahasan demokrasi. Kita coba lihat dari titik pemikiran dan perasaan lawan dialog tentang demokrasi sehingga kita mampu memberikan kalimat yang efektif dan berkesan. Ini jauh lebih efisien ketimbang banyak contoh, tapi tidak mengena dengan persepsi lawan bicara.
Selain itu humor dan kedekatan psikologis dengan lawan bicara juga sangat penting, agar komunikasi lancar. Anda akan kesulitan menyampaikan ide jika dialog justru terkesan kaku dan efeknya bisa berujung pada emosi yang tak terkendali.

Jangan posisikan diri anda sebagai pihak yang menggurui. Istilahnya bukan komunikasi ”atas ke bawah”, tapi ”ke samping”. Ya, posisikanlah ia sebagai mitra diskusi, bukan orang yang harus didikte.

Hindari kalimat yang bertele-tele dan panjang. Kalau berupa tulisan, hindari tulisan yang panjang tanpa spasi dan cenderung ribet untuk dipahami atau juga kalimat yang disingkat-singkat. Gunakanlah pertanyaan-pertanyaan pendek yang retoris. Giring secara perlahan ke arah substansi dialog, tidak bertele tele, tidak ribet. Perlahan tapi pasti, dengan santai. Gunakanlah argumen yang runtut, tapi sederhana. Yang mudah dipahami oleh lawan dialog kita. Bawa ia pada logika yang sulit ia bantah sendiri, dengan kata lain ia yang akan ”membantah” argumen awalnya sendiri. Meski tidak diungkapkan lewat kata-kata, saya yakin setidaknya akan sangat berbekas dihatinya. Dengan begitu ia tak akan merasa digurui. Dan anda jangan cenderung memaksa lawan bicara ”menelan” secara keseluruhan ide yang kita pahami. Bisa-bisa ia ”muntah”.

Mengalahkan Lawan secara Elegan

Yang pasti, ingatlah bahwa tujuan anda berdialog, bukanlah ingin ”menghancurkan” lawan dialog, bukan pula ”ingin memenangkan pertandingan”. Anda berdialog karena inilah sarana anda menyampaikan yang haq dan merubah pola fikir lawan dialog anda. Bukakah begitu? Jika anda hanya main klaim semata tanpa ada argumentasi rasional yang mampu diterima dan main emosi doang. Yang ada bukanlah ”forum dialog” tapi ”medan perang”.

Bukankah anda yakin atas kebenaran ide yang anda bawa? Jika begitu tak perlu ragu, karena anda ”menjual” produk yang berkualitas. Ketika lawan bicara belum mengerti, jangan ”paksa” ia ”menelan”, tapi ”bantulah” ia ”menelan”. Luruskan hati, jangan sampai terkotori oleh keinginan lain. Dengan argumen yang runut dan mudah dipahami, ”kalahkanlah” ”lawan” dengan elegan. Dan janganlah berputus asa, jangan negative thinking duluan dengan lawan dialog kita. Karena hidayah adalah rahasia Allah.

Banyak sekali contohnya. Misal, ketika perang uhud usai, ’Amr bin Al-’Ash, pemimpin pasukan Quraisy yang mengejar kaum muslim ke Habasyah, bersama Khalid bin Walid, di luar dugaan masuk Islam dan mengikrarkan kalimat syahadat. ’Amr bin Al-’Ash lalu dipercaya Rasulullah sebagai panglima perang umat Islam dan dipercaya oleh ’Umar bin Al-Khaththab sebagai gubernur Mesir. Dia tercatat sebagai sahabat Nabi.
Jadi, jangan fikir si ini, si itu gak bisa berubah dan mustahil didakwahi.
Jangan biarkan persepsi ”hitam-putih” kita biarkan tercap pada orang lain.

Wallahu a’lam bishshawab.

——————————————————————————————
Saya memposting tulisan ini bukan karena saya sudah bisa mempraktekannya.
Tetapi hanya berbagi tips untuk para aktivis sekalian.

Walopun copy.. semoga bermanfaat..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar